kampoengdolanan.or.id, Bermain memang asyik, ya itulah yang dirasakan oleh anak-anak ketika bermain bersama kampoeng dolanan. Tak ingat waktu, tak ingat lelah, ingatnya hanya beristirahat sebentar dan kemudian lanjut bermain lagi. Hal inilah yang menjadi sumber kekuatan anak-anak dalam mengembangkan dirinya. Ada fakta lain, yaitu biasanya kami susah untuk mengendalikan mereka agar berhenti bermain. Jadi kami akan berhenti ketika mereka sudah menyatakan untuk berhenti bermain.

Beberapa waktu lalu, pada hari Minggu (26/9) Kampoeng Dolanan mendapatkan ajakan kolaborasi bersama Child’s Reverie Indonesia. Kegiatannya adalah mengajak adik-adik di kampung binaannya untuk bermain permainan tradisional. Nah, yang bikin unik adalah lokasinya yaitu bernama Gang Genderuwo. Untuk sebagian orang Indonesia atau kebanyakan orang Indonesia mengenal istilah Genderuwo. Yap, tepat sekali ! genderuwo adalah salah satu hantu yang ada di Indonesia.

Nah, akhirnya kami pun tertarik untuk menggali kearifan lokal dari sebuah nama kampung yang ada disana. Ternyata, kampung itu adalah kampung baru berusia 17 tahun dimana dulunya kampung itu memang tempat hantu, maka tak heran jika sebelum memasuki gang genderuwo, kita melewati kampung setan. Istilah ini memang sesuai dengan sejarah kampung yang berada disana. Namun, jangan khawatir karena itu telah terjadi belasan tahun yang lalu dan kini telah menjadi kampung bagi mereka, para manusia.

Kami berjumpa dengan anak-anak, kami  bermain bersama anak-anak dengan membawa belasan permainan tradisional. Diantaranya adalah tarik tambang, balap karung, egrang bambu, egrang tali bambu, dakon, bekel, gasing jogja, keke’an, yoyo, lompat tali, boy-boyan dan lain-lain. Bermain mulai pukul 09.30 dan selesai sampai pukul 11.00 WIB. Panas teriknya matahari tak dirasakan oleh mereka, intinya main, main dan main.

“Laanjuuuttt” kata mayoritas anak-anak ketika ditanyai selesai atau lanjut. Ketertarikan tentang permainan tradisional memang terjadi dan bukan hanya pada kesempatan kali ini saja yang dirasakan kepada mereka. Artinya, tak ada anak yang tidak tertarik dengan permainan tradisional hanya kesempatan mereka untuk mengetahui, mengenal dan memainkan permainan tradisional yang belum maksimal. Maka, yuk bergerak mulai dari diri sendiri untuk bertanggung jawab melestarikan budaya permainan tradisional.