Latar Belakang

Era 70-90an merupakan era emas dari permainan tradisional dimana yang dipahami oleh banyak orang bahwa anak-anak kecil hingga orang dewasa pada zaman itu sangat senang dengan permainan tradisional. Melalui permainan tradisional pula, masyarakat mulai menumbuhkembangkan kemampuan berinteraksi dan berkomunikasi pada lingkungan sekitar sehingga tak sedikit pula yang bisa mengenal tetangga nun jauh disana yang berjarak beberapa km.

Seiring dengan perkembangan zaman membuat kemampuan berinteraksi mulai berubah dan berbenah, entah itu menjadi baik atau buruk. Lahirlah di era modern dimana teknologi mempunyai peranan yang sangat penting untuk mengikuti arus perkembangan zaman. Adanya perkembangan teknologi ini ada sisi beruntungnya jika dalam koridor komunikasi maka teknologi ini bisa mendekatkan yang jauh namun terkadang ada sisi sebaliknya yakni menjauhkan yang dekat.

Hingga pada akhirnya ada sebuah case dimana terjadi komunikasi antara mahasiswa dengan dosen yang cara berkomunikasinya ternyata jauh dari kata sopan santun. Dan cara negur tidak sopannya adalah melalui media sosial sehingga orang yang salah tersebut tidak mengetahui kesalahannya. Maka tidak akan ada titik temu untuk saling mengingatkan bila polanya seperti itu terus.

Di kondisi yang lain, mencoba untuk flashback jauh ke belakang yang mencoba untuk mengorelasikan kondisi di atas dengan sebuah ajakan untuk bermain permainan tradisional. Misalnya ada anak bernama cak dolan, dia keluar mengajak cak dolip yang kondisinya mereka adalah teman sekampung. Cak dolan keluar rumah namun tidak ada teman sama sekali, termasuk cak dolip yang sedang berada di dalam rumah.

Kemudian cak dolan memanggil cak dolip yang berada di dalam rumah. “Cak dolip, ayo keluar kita main” teriak cak dolan. Namun, yang terjadi bukan cak dolip yang keluar, ibu nya yang keluar menemui cak dolan. Nah, pada kondisi ini jika cak dolan menggunakan bahasa ngoko (kasar) akan langsung ditegur oleh ibu nya cak dolip. Hal ini yang terjadi dalam sebuah ajakan permainan tradisional.

Semakin mempelajari tentang permainan tradisional maka akan semakin menguatkan bahwa permainan tradisional terdapat nilai-nilai yang patut diajarkan dan disampaikan kepada anak-anak, remaja, dewasa bahkan lansia. Ada nilai tentang sportivitas, jujur, leadership, teamwork, kemampuan membuat hukum (peraturan) dan lain-lainnya.

Maka dari itu, kampoeng dolanan ini dibentuk bukan karena permainan tradisionalnya yang jadi tumpuan utamanya melainkan permainan tradisional menjadi salah satu tools untuk mengangkat sebuah nilai tentang edukasi / pendidikan.